La
Furia Roja kembali menelan kekalahan di partai kedua Piala
Dunia 2014 ini. Setelah di partai pembuka mereka digasak Belanda dengan skor
telak, 5-1, kini di pertandingan kedua, disaat banyak orang mengharapkan
kebangkitan Spanyol, ternyata tim asuhan Vicente del Bosque itu kembali menelan
kekalahan.
Menghadapi Chile di
laga kedua grup B, Xabi Alonso dkk kalah 2-0 oleh sepasang gol dari Eduardo
Vargas di menit 20 dan Charles Aranguiz di menit ke 43. Tim Matador pun harus
menjadi tim kedua yang harus angkat koper menyusul Australia yang beberapa jam
sebelumnya juga takluk dari Belanda lewat pertandingan dramatis yang berakhir
dengan skor 3-2.
Disini saya tidak akan
menyoroti bagaiamana taktik dan strategi kedua tim yang bertanding. Apa yang
akan saya kupas adalah mitos kutukan yang menimpa para juara bertahan Piala
Dunia yang kandas di edisi berikutnya, yang ironisnya selalu gugur di babak
grup. Saya mengambil contoh mulai dari Perancis, juara bertahan tahun 1998,
karena memang saya baru ngeh sepak
bola event besar di tahun tersebut.
Mitos ini memang
terputus di Brasil, saat mereka mampu menjuarai Piala Dunia tahun 2002 dan pada
edisi 2006 Tim Samba berhasil melaju hingga perempat-final sebelum dikalahkan
oleh Les Blues Perancis, tapi mari
kita urutkan dari tahun 1998 saat Perancis menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Bermain di rumah
sendiri, Tim Ayam Jantan yang saat itu diisi oleh pemain-pemain berkelas, dan
bahkan mereka disebut sebagai generasi emas Perancis, macam Zinedine Zidane,
Youri Djorkaef, Lilian Thuram, Didier Deschamps, Laurent Blanc dan Fabien
Barthez sebenarnya tidak begitu diunggulkan. Mereka memang diprediksi akan
melaju jauh, tapi tidak sampai merengkuh gelar juara, karena saat itu Jerman,
Belanda dan Italia juga sedang menuai bibit baru generasi emas mereka. Tapi
ternyata takdir berkata lain. Partai final di Stade de Princes, Paris menjadi
saksi bisu bagaiamana hebatnya anak asuhan Aime Jacquet menghancurkan Brasil
dengan skor 3-0, lewat dua gol dari Zidane dan satu gol dari Emmanuel Petit.
Euforia membuncah, Perancis dengan Zinedine Yazid Zidane-nya menjadi contoh
sepak bola indah dan dijagokan akan mempertahankan gelar di Korea-Jepang. Tidak
mengherankan memang karena saat itu pun, di tahun 2002, Perancis kembali
melahirkan bintang-bintang muda yang sudah dipersiapkan sejak 1998. Thierry
Henry, David Trezeguet, Sylvain Wiltord, Vincent Candela, Claude Makelele dan Mikael
Silvestre saat itu sudah tergabung bersama Zidane, Alain Boghossian dan
Stephene Guivarch dari generasi 98. Ditambah lagi pada tahun 2000 mereka juga
berhasil merengkuh gelar Piala Eropa, semakin lengkaplah predikat unggulan
untuk Les Blues saat itu. Tapi,
prediksi tetaplah prediski, kenyataan di lapangan sungguh berbeda dengan
analisa, oleh para pakar sekalipun.
Berada satu grup dengan
Uruguay, Denmark dan Senegal, Perancis diprediksi akan lolos sebagai juara
grup, dan posisi kedua akan menjadi rebutan antara Uruguay dan Denmark. Tapi apa
daya, Perancis yang di pertandingan pertama ‘hanya’ menghadapi Senegal justru
tunduk lewat gol tunggal Papa Bouba Dioup. Di partai kedua Henry dkk ditahan
Urugay 0-0 dan di partai terakhir kembali dihajar oleh Tim Dinamit Denmark 2-0,
lewat gol dari Dennis Romedhal dan John Dal Tomasson. Ironis, jika tidak ingin
dikatakan memalukan, karena selain harus tersingkir dari penyisihan grup,
Perancis juga tidak mampu mencetak sebiji gol pun...!!!!
Apa yang dialami Italia
di Afsel 2010 memang tidak separah Perancis di Korea-Jepang, tapi tetap saja
ini merupakan tragedi pahit bagi sepak bola Italia. Dipayungi skandal calciopoli saat berangkat ke Jerman pada
2006, Italia justru menjadi raja di tanah Bavaria.
Mengandalkan pemain-pemain yang cerdas seperti Andrea Pirlo, Alessandro Del
Piero, Fabio Grosso dan kapten Fabio Cannavaro, Gli Azzuri berhasil membelokkan prediksi orang yang lebih
menjagokan tuan rumah Jerman, Brasil atau Inggris yang saat itu sedang dihuni
punggawa-punggawa hebat. Diwarnai dengan kejadian Zidane yang menanduk Marco Materazzi,
Italia berhasil mengandaskan Perancis lewat adu pinalti di Olympiastadion.
Apa yang terjadi empat
tahun kemudian?
Italia masih dianggap
berkelas, karena sama seperti Perancis 2002, Italia setidaknya mampu lolos dari
grup neraka pada Euro 2008, meskipun akhirnya kalah adu pinalti dari Spanyol di
babak 8 besar. Di Afsel 2010, Italia tergabung di grup F bersama wakil Amerika
Selatan, Paraguay, wakil Oceania, Selandia Baru dan sesama wakil Eropa,
Slowakia. Tentu saja Daniele De Rossi dkk dianggap mampu menjuarai grup untuk
bersanding dengan Paraguay lolos ke 16 besar. Well, kenyataannya tim asuhan Marcello Lippi tersebut harus
menghuni posisi juru kunci grup F. Bermain imbang 1-1 melawan Paraguay di
partai perdana, tren Italia justru menurun di laga berikutnya. Kembali imbang
melawan Slowakia dengan skor identik, di pertandingan pamungkas, dimana Italia
dituntut untuk menang, mereka justru kalah secara mengejutkan dari Selandia
Baru dengan skor 3-2. Sontak saja ini mengejutkan dunia sepak bola, bukan saja
karena kembalinya mitos kutukan terhadap juara dunia, tapi juga melempemnya
lini tengah Italia yang saat itu dianggap sebagai salah satu yang teraik di
dunia. Tapi dari sinilah era baru permainan sepak bola lahir, ya konsep tiki-taka yang diusung Spanyol berhasil
merajai dunia dengan permainan cantik dan menghibur.
Tapi sekarang, ‘kutukan’
itu kembali hadir. Tak peduli seberapa indah Spanyol memainkan bola di lini
tengah, tak peduli seberapa besar prosentase
penguasaan bola Spanyol disetiap laga, tak peduli betapa sering Spanyol
mengurung pertahanan lawan, yang jelas Arturo Vidal dkk sudah berhasil
memulangkan Spanyol lebih awal dari ekspetasi kebanyakan orang. Apakah ini
terkait dengan suramnya prestasi Barcelona, sebagai pengusung awal konsep tiki-taka, di musim ini..??
Yang pasti Piala Dunia
2014 harus rela kehilangan dalam tempo singkat salah satu negara yang selalu
bermain menghibur di setiap laga. Brasil 2014 terlalu cepat berlalu untuk Xavi
Hernandez, Iker Casillas, Cesc Fabregas dan Diego Costa.
Sampai jumpa empat
tahun lagi La Furia Roja....!!!!






