Rabu, 18 Juni 2014

Strange Deja Vu



La Furia Roja kembali menelan kekalahan di partai kedua Piala Dunia 2014 ini. Setelah di partai pembuka mereka digasak Belanda dengan skor telak, 5-1, kini di pertandingan kedua, disaat banyak orang mengharapkan kebangkitan Spanyol, ternyata tim asuhan Vicente del Bosque itu kembali menelan kekalahan.

Menghadapi Chile di laga kedua grup B, Xabi Alonso dkk kalah 2-0 oleh sepasang gol dari Eduardo Vargas di menit 20 dan Charles Aranguiz di menit ke 43. Tim Matador pun harus menjadi tim kedua yang harus angkat koper menyusul Australia yang beberapa jam sebelumnya juga takluk dari Belanda lewat pertandingan dramatis yang berakhir dengan skor 3-2.

Disini saya tidak akan menyoroti bagaiamana taktik dan strategi kedua tim yang bertanding. Apa yang akan saya kupas adalah mitos kutukan yang menimpa para juara bertahan Piala Dunia yang kandas di edisi berikutnya, yang ironisnya selalu gugur di babak grup. Saya mengambil contoh mulai dari Perancis, juara bertahan tahun 1998, karena memang saya baru ngeh sepak bola event besar di tahun tersebut.

Mitos ini memang terputus di Brasil, saat mereka mampu menjuarai Piala Dunia tahun 2002 dan pada edisi 2006 Tim Samba berhasil melaju hingga perempat-final sebelum dikalahkan oleh Les Blues Perancis, tapi mari kita urutkan dari tahun 1998 saat Perancis menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Bermain di rumah sendiri, Tim Ayam Jantan yang saat itu diisi oleh pemain-pemain berkelas, dan bahkan mereka disebut sebagai generasi emas Perancis, macam Zinedine Zidane, Youri Djorkaef, Lilian Thuram, Didier Deschamps, Laurent Blanc dan Fabien Barthez sebenarnya tidak begitu diunggulkan. Mereka memang diprediksi akan melaju jauh, tapi tidak sampai merengkuh gelar juara, karena saat itu Jerman, Belanda dan Italia juga sedang menuai bibit baru generasi emas mereka. Tapi ternyata takdir berkata lain. Partai final di Stade de Princes, Paris menjadi saksi bisu bagaiamana hebatnya anak asuhan Aime Jacquet menghancurkan Brasil dengan skor 3-0, lewat dua gol dari Zidane dan satu gol dari Emmanuel Petit. Euforia membuncah, Perancis dengan Zinedine Yazid Zidane-nya menjadi contoh sepak bola indah dan dijagokan akan mempertahankan gelar di Korea-Jepang. Tidak mengherankan memang karena saat itu pun, di tahun 2002, Perancis kembali melahirkan bintang-bintang muda yang sudah dipersiapkan sejak 1998. Thierry Henry, David Trezeguet, Sylvain Wiltord, Vincent Candela, Claude Makelele dan Mikael Silvestre saat itu sudah tergabung bersama Zidane, Alain Boghossian dan Stephene Guivarch dari generasi 98. Ditambah lagi pada tahun 2000 mereka juga berhasil merengkuh gelar Piala Eropa, semakin lengkaplah predikat unggulan untuk Les Blues saat itu. Tapi, prediksi tetaplah prediski, kenyataan di lapangan sungguh berbeda dengan analisa, oleh para pakar sekalipun.


Berada satu grup dengan Uruguay, Denmark dan Senegal, Perancis diprediksi akan lolos sebagai juara grup, dan posisi kedua akan menjadi rebutan antara Uruguay dan Denmark. Tapi apa daya, Perancis yang di pertandingan pertama ‘hanya’ menghadapi Senegal justru tunduk lewat gol tunggal Papa Bouba Dioup. Di partai kedua Henry dkk ditahan Urugay 0-0 dan di partai terakhir kembali dihajar oleh Tim Dinamit Denmark 2-0, lewat gol dari Dennis Romedhal dan John Dal Tomasson. Ironis, jika tidak ingin dikatakan memalukan, karena selain harus tersingkir dari penyisihan grup, Perancis juga tidak mampu mencetak sebiji gol pun...!!!!

Apa yang dialami Italia di Afsel 2010 memang tidak separah Perancis di Korea-Jepang, tapi tetap saja ini merupakan tragedi pahit bagi sepak bola Italia. Dipayungi skandal calciopoli saat berangkat ke Jerman pada 2006, Italia justru menjadi raja di tanah Bavaria. Mengandalkan pemain-pemain yang cerdas seperti Andrea Pirlo, Alessandro Del Piero, Fabio Grosso dan kapten Fabio Cannavaro, Gli Azzuri berhasil membelokkan prediksi orang yang lebih menjagokan tuan rumah Jerman, Brasil atau Inggris yang saat itu sedang dihuni punggawa-punggawa hebat. Diwarnai dengan kejadian Zidane yang menanduk Marco Materazzi, Italia berhasil mengandaskan Perancis lewat adu pinalti di Olympiastadion.
Apa yang terjadi empat tahun kemudian?
Italia masih dianggap berkelas, karena sama seperti Perancis 2002, Italia setidaknya mampu lolos dari grup neraka pada Euro 2008, meskipun akhirnya kalah adu pinalti dari Spanyol di babak 8 besar. Di Afsel 2010, Italia tergabung di grup F bersama wakil Amerika Selatan, Paraguay, wakil Oceania, Selandia Baru dan sesama wakil Eropa, Slowakia. Tentu saja Daniele De Rossi dkk dianggap mampu menjuarai grup untuk bersanding dengan Paraguay lolos ke 16 besar. Well, kenyataannya tim asuhan Marcello Lippi tersebut harus menghuni posisi juru kunci grup F. Bermain imbang 1-1 melawan Paraguay di partai perdana, tren Italia justru menurun di laga berikutnya. Kembali imbang melawan Slowakia dengan skor identik, di pertandingan pamungkas, dimana Italia dituntut untuk menang, mereka justru kalah secara mengejutkan dari Selandia Baru dengan skor 3-2. Sontak saja ini mengejutkan dunia sepak bola, bukan saja karena kembalinya mitos kutukan terhadap juara dunia, tapi juga melempemnya lini tengah Italia yang saat itu dianggap sebagai salah satu yang teraik di dunia. Tapi dari sinilah era baru permainan sepak bola lahir, ya konsep tiki-taka yang diusung Spanyol berhasil merajai dunia dengan permainan cantik dan menghibur.


Tapi sekarang, ‘kutukan’ itu kembali hadir. Tak peduli seberapa indah Spanyol memainkan bola di lini tengah, tak peduli seberapa besar prosentase penguasaan bola Spanyol disetiap laga, tak peduli betapa sering Spanyol mengurung pertahanan lawan, yang jelas Arturo Vidal dkk sudah berhasil memulangkan Spanyol lebih awal dari ekspetasi kebanyakan orang. Apakah ini terkait dengan suramnya prestasi Barcelona, sebagai pengusung awal konsep tiki-taka, di musim ini..??
Yang pasti Piala Dunia 2014 harus rela kehilangan dalam tempo singkat salah satu negara yang selalu bermain menghibur di setiap laga. Brasil 2014 terlalu cepat berlalu untuk Xavi Hernandez, Iker Casillas, Cesc Fabregas dan Diego Costa.

Sampai jumpa empat tahun lagi La Furia Roja....!!!!

Solusi Untuk Dolly




Heboh penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak pada hari ini tentu sangat mengundang perhatian masyarakat luas. Bak buah simalakama, penutupan ini dikhawtirkan akan mmeberikan efek jangka panjang yang membuat situasi kota Surabaya tidak kondusif. Masing-masing pihak yang terlibat dalam permasalahan ini secara massiv terus melancarkan propaganda bahwa apa yang didukungnya adalah benar dan patut diperjuangkan.


Sejujurnya saya bukan dalam kapasitas untuk menghakimi, karena saya tidak berada disana, dan informasi yang saya dapatkan pun hanya dari searching dan beberapa dari media massa maupun elektronik. Tapi yang menjadi kekhawatiran saya dalam penutupan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini adalah, masuknya oknum-oknum penyusup yang memanfaatkan keadaan, sehingga situasi chaos terjadi. Menjadi hal yang normal jika untuk merubah suatu kebiasaan butuh kerja ekstra keras dan terus menerus untuk memberikan efek psikologis yang signifikan. Sosialisasi harusnya menjadi senjata utama pemerintah kota Surabaya, hal ini selain untuk memberikan pengarahan dan pengertian yang tepat kepada para penghuni lokalisasi, juga berguna untuk edukasi pihak-pihak yang bersinggungan.


Melihat perkembangan dewasa ini, apa yang dilakukan oleh Ibu Risma selaku walikota Surabaya memang tepat, sangat tepat malahan menurut saya, karena tidak semua pemimpin berani berhadapan langsung dengan keadaan dimana benturan dan gesekan-gesekan dengan rakyatnya berpotensi sangat besar untuk terjadi. Tidak banyak pemimpin yang berani keluar dari zona nyamannya untuk membentuk daerahnya menjadi lebih sehat dan bermoral. Mengingat eksistensi Dolly yang sudah menahun, dan juga jumlah pekerja yang menggantungkan hidup di Dolly mencapai ribuan, tentu bukan sebulan-dua bulan Bu Risma memikirkan, merencanakan dan merapatkan para staffnya guna membahas masalah ini. Butuh analisa para penasehat dan ahli juga untuk mengerti dampak yang akan dihadapai Bu Risma.


Satu tayangan di Mata Najwa, saat Bu Risma diwanwancarai, dimana seorang PSK berusia 60 tahunan yang musti ‘melayani’ tamu, yang lebih pantas disebut sebagai cucunya, berusia 13 tahun sontak membuat para pemirsa membelakkan matanya. Bukan saja tentang si PSK yang sudah terlalu tua, tapi juga soal si pelanggan yang masih bau kencur. Bagaiaman mungkin anak usia 13 tahun bisa dengan santai dan tanpa rasa malu ‘jajan’ di lokalisasi Dolly. Yang lebih membuat saya miris adalah tarif yang dikenakan oleh si PSk terhadap ‘tamu ciliknya’ tersebut, yaitu 10 ribu Rupiah untuk sekali ‘transaksi’.



Begitu hancurkah moral anak-anak Indonesia sekarang..??



Jika anak usia 13 tahun menghabiskan uang 10 ribu untuk bermain game online, PS atau membeli aksesoris Tamiya itu adalah hal yang wajar, tapi jika uang 10 ribu untuk menuntaskan nafsu syahwatnya di lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, dengan PSK berusia 60 tahun..??!!!



Ada yang salah dengan bocah itu...!!!!


Salah satu alasan terbesar Bu Risma menutup Dolly adalah bahwa di kawasan tersebut juga tumbuh lingkungan perkampungan warga. Dolly bukan hanya lokalisasi. Dolly juga ada anak-anak usia sekolahan, anak-anak balita yang butuh lingkungan pertumbuhan yang sehat. Efek lingkungan jelas merupakan faktor pembentuk terbesar bagi karakter seseorang, itulah mengapa Bu Risma tidak bisa membayangkan apa jadinya jika anak-anak tersebut tumbuh besar di lingkungan prostitusi. Yang tentunya tidak hanya pelacuran saja yang ada disana, melainkan budaya minum-minuman keras, budaya sok jagoan dan budaya tanpa tata krama tumbuh subur disana. Ini bukan men-stigma-kan bahwa lokalisasi adalah tempat yang buruk. Tapi memang begitulah faktanya, saya tulis seperti diatas karena saya pernah melakukan observasi ke lokalisasi yang ada di daerah saya tentang peranan pemerintah dalam menganggulangi penyakit  HIV/AIDS.


Lalu bagaimana dengan para penghuni Dolly yang sudah ‘nyaman’ dan bertahun-tahun menggantungkan hidupnya dari pekerjaan seperti itu..??


Semua kembali kepada manusianya. Di Dolly memang mereka mendapatkan penghasilan yang luar biasa, hampir 10juta/bulan (bahkan gaji saya pun tidak ada apa-apanya), tapi jika hal itu didapat dari pekerjaan yang kurang pantas, apakah akan selamanya mereka berkecimpung ditempat itu?


Jika sudah masuk kedalam ranah agama dan halal/haram, saya tidak mau terlalu jauh. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah niat baik Bu Risma yang hendak mengentaskan warga Dolly dari dunia hitam ini mendapat respon yang semestinya dari para pelaku?


Terlebih jika masalah seperti ini sudah masuk ranah politik. Tentu akan semakin banyak kepentingan yang bermain. Sekalipun pemerintah Surabaya sudah bersedia memberikan uang santunan dan pelatihan bagi eks Dolly, tapi tetap saja cibiran dan pemikiran-pemikiran miring masih banyak dihenbuskan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.


Akhir tulisan, semoga akan tejadi titik temu yang tidak saling merugikan bagi kedua pihak. Poin utamanya adalah penutupan Dolly, tanpa meninggalkan luka bagi para warga dan pemerintah kota Surabaya. Tercapinya win-win-solution yang akan membawa kota Surabaya ke arah yang lebih baik..




Semoga...Amin..

Selasa, 17 Juni 2014

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Assalamualaykum....

Kembali saya membuat blog baru untuk sekedar mencurahkan hobi menulis saya. Jika di Der Wissen saya menulis tentang ilmu pengetahuan dan beberapa materi 'berat', maka di Sumber Waras ini saya akan sedikitsantai dan mencoba menulis yang ringan-ringan saja. Entah itu tentang sepak bola, film ataupun hal lain yang tiba-tiba terlintas di otak saya.

Semua akan tersaji di Sumber Waras, bahasa yang saya gunakan juga akan sedikit lebih renyah dan santai, maaf jika tidak sesuai EYD.

So, selamat datang di Sumber Waras..semoga semua baik-baik saja....