Heboh penutupan
lokalisasi Dolly dan Jarak pada hari ini tentu sangat mengundang perhatian
masyarakat luas. Bak buah simalakama, penutupan ini dikhawtirkan akan
mmeberikan efek jangka panjang yang membuat situasi kota Surabaya tidak
kondusif. Masing-masing pihak yang terlibat dalam permasalahan ini secara
massiv terus melancarkan propaganda bahwa apa yang didukungnya adalah benar dan
patut diperjuangkan.
Sejujurnya saya bukan dalam
kapasitas untuk menghakimi, karena saya tidak berada disana, dan informasi yang
saya dapatkan pun hanya dari searching dan beberapa dari media massa maupun
elektronik. Tapi yang menjadi kekhawatiran saya dalam penutupan lokalisasi
terbesar se-Asia Tenggara ini adalah, masuknya oknum-oknum penyusup yang
memanfaatkan keadaan, sehingga situasi chaos
terjadi. Menjadi hal yang normal jika untuk merubah suatu kebiasaan butuh kerja
ekstra keras dan terus menerus untuk memberikan efek psikologis yang
signifikan. Sosialisasi harusnya menjadi senjata utama pemerintah kota
Surabaya, hal ini selain untuk memberikan pengarahan dan pengertian yang tepat
kepada para penghuni lokalisasi, juga berguna untuk edukasi pihak-pihak yang
bersinggungan.
Melihat perkembangan
dewasa ini, apa yang dilakukan oleh Ibu Risma selaku walikota Surabaya memang
tepat, sangat tepat malahan menurut saya, karena tidak semua pemimpin berani
berhadapan langsung dengan keadaan dimana benturan dan gesekan-gesekan dengan
rakyatnya berpotensi sangat besar untuk terjadi. Tidak banyak pemimpin yang
berani keluar dari zona nyamannya untuk membentuk daerahnya menjadi lebih sehat
dan bermoral. Mengingat eksistensi Dolly yang sudah menahun, dan juga jumlah
pekerja yang menggantungkan hidup di Dolly mencapai ribuan, tentu bukan
sebulan-dua bulan Bu Risma memikirkan, merencanakan dan merapatkan para
staffnya guna membahas masalah ini. Butuh analisa para penasehat dan ahli juga
untuk mengerti dampak yang akan dihadapai Bu Risma.
Satu tayangan di Mata
Najwa, saat Bu Risma diwanwancarai, dimana seorang PSK berusia 60 tahunan yang
musti ‘melayani’ tamu, yang lebih pantas disebut sebagai cucunya, berusia 13
tahun sontak membuat para pemirsa membelakkan matanya. Bukan saja tentang si
PSK yang sudah terlalu tua, tapi juga soal si pelanggan yang masih bau kencur. Bagaiaman
mungkin anak usia 13 tahun bisa dengan santai dan tanpa rasa malu ‘jajan’ di
lokalisasi Dolly. Yang lebih membuat saya miris adalah tarif yang dikenakan
oleh si PSk terhadap ‘tamu ciliknya’ tersebut, yaitu 10 ribu Rupiah untuk
sekali ‘transaksi’.
Begitu hancurkah moral
anak-anak Indonesia sekarang..??
Ada yang salah dengan
bocah itu...!!!!
Salah satu alasan
terbesar Bu Risma menutup Dolly adalah bahwa di kawasan tersebut juga tumbuh
lingkungan perkampungan warga. Dolly bukan hanya lokalisasi. Dolly juga ada
anak-anak usia sekolahan, anak-anak balita yang butuh lingkungan pertumbuhan
yang sehat. Efek lingkungan jelas merupakan faktor pembentuk terbesar bagi
karakter seseorang, itulah mengapa Bu Risma tidak bisa membayangkan apa jadinya
jika anak-anak tersebut tumbuh besar di lingkungan prostitusi. Yang tentunya
tidak hanya pelacuran saja yang ada disana, melainkan budaya minum-minuman
keras, budaya sok jagoan dan budaya tanpa tata krama tumbuh subur disana. Ini bukan
men-stigma-kan bahwa lokalisasi adalah tempat yang buruk. Tapi memang begitulah
faktanya, saya tulis seperti diatas karena saya pernah melakukan observasi ke
lokalisasi yang ada di daerah saya tentang peranan pemerintah dalam
menganggulangi penyakit HIV/AIDS.
Lalu bagaimana dengan
para penghuni Dolly yang sudah ‘nyaman’ dan bertahun-tahun menggantungkan
hidupnya dari pekerjaan seperti itu..??
Semua kembali kepada
manusianya. Di Dolly memang mereka mendapatkan penghasilan yang luar biasa, hampir
10juta/bulan (bahkan gaji saya pun tidak ada apa-apanya), tapi jika hal itu
didapat dari pekerjaan yang kurang pantas, apakah akan selamanya mereka
berkecimpung ditempat itu?
Jika sudah masuk
kedalam ranah agama dan halal/haram, saya tidak mau terlalu jauh. Yang jadi
pertanyaan adalah, apakah niat baik Bu Risma yang hendak mengentaskan warga
Dolly dari dunia hitam ini mendapat respon yang semestinya dari para pelaku?
Terlebih jika masalah
seperti ini sudah masuk ranah politik. Tentu akan semakin banyak kepentingan
yang bermain. Sekalipun pemerintah Surabaya sudah bersedia memberikan uang
santunan dan pelatihan bagi eks Dolly, tapi tetap saja cibiran dan
pemikiran-pemikiran miring masih banyak dihenbuskan oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab.
Akhir tulisan, semoga
akan tejadi titik temu yang tidak saling merugikan bagi kedua pihak. Poin utamanya
adalah penutupan Dolly, tanpa meninggalkan luka bagi para warga dan pemerintah
kota Surabaya. Tercapinya win-win-solution
yang akan membawa kota Surabaya ke arah yang lebih baik..
Semoga...Amin..




Tidak ada komentar:
Posting Komentar